Selasa, 28 Desember 2010

Home » » Aliran Bumi Segandu Indramayu Resmi Dibekukan

Aliran Bumi Segandu Indramayu Resmi Dibekukan



Indramayu - Setelah beberapa minggu melakukan serangkaian penggalian data dan pengkajian akhirnya Pengawas Aliran Kepercayaan Masyarakat (Pakem) Kabupaten Indramayu secara resmi membekukan aliran kepercayaan Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu yang berada di Losarang, Kabupaten Indramayu.
 
Pembekuan komunitas aliran kepercayaan pimpinan Takmad Diningrat ini didukung oleh fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kabupaten Indramayu yang beberapa waktu lalu menegaskan bahwa aliran kepercayaan tersebut sesat.

Ketua Pakem Kab Indramayu, Udjijono SH mengungkapkan, dari hasil telaah terhadap data yang dikumpulkan dari masing-masing anggota Pakem yang terdiri dari Majelis Ulama Indonesia (MUI), Polres, Kodim, Dinas Pendidikan, Dinas Trantib, Dinas Kebudayaan, dan Kejakasaan Negeri Indramayu, semuanya menegaskan bahwa aliran tersebut sesat. 

"Melalui telaah ini, kami baru dapat membuat surat rekomedasi yang akan disampaikan kepada bupati," jelas Udjiono, Senin (5/11) sambil mengatakan bahwa Suku Dayak Losarang dinyatakan sesat, karena yang diajarkannya telah melanggar ajaran agama yang dianut.

Misalnya, mereka mengkultuskan alam dan matahari menjadi penyembahannya. Karena itu pihaknya mengingatkan kepada para pengikut Suku Dayak Hindu Budha Bumi Segandu di Indramayu agar mulai saat ini tidak lagi menyebarkan ajaran-ajarannya. 

Ketua MUI Kab Indramayu, KH Sulhin H menyambut baik dibekukannya aliran Suku Dayak Losarang yang selama ini dianggap meresahkan warga Losarang dan Indramayu pada umumnya. Pasalnya, yang diajarkannya benar menyimpang dari ajaran Islam. 

Komunitas Dayak Hindu Budha Bumi Segandu yang dikenal dengan Dayak Indramayu seluruh anggotanya adalah suku Jawa yang bermukim di Desa Krimun, Kecamatan Losarang, Indramayu.

Di antara ajarannya, pada malam-malam tertentu seperti Jumat Kliwon para anggotanya berkumpul di pendopo. Mereka menyanyikan kidung pujian kepada alam dan Sang Pencipta. Seluruh kidung bersumber dari ajaran kitab suci mereka yang ditulis oleh pimpinannya Takmat Dinigrat, pendiri sekaligus ketua adat. 

Ritual yang disebut kungkung ini dilakukan sepanjang malam. Selama berendam mereka dianjurkan untuk merenungi kebesaran Sang Pencipta. Ritual ini bertujuan untuk menciptakan kesabaran kendati dalam keadaan yang sulit. 

Ritual tersebut dilakukan selama 30 malam secara berturut-turut. Tidak seluruh pengikut Dayak Indramayu mampu menjalankannya. Bagi yang status sosialnya mampu maka dianggap lebih tinggi.

Dalam kesehariannya para anggota Dayak Indramayu yang berjumlah lebih dari 400 memilih menjadi vegetarian dan bekerja sebagai petani.

Namun dalam sejumlah tatacaranya, seperti pernikahan menggunakan cara Islam yakni oleh petugas KUA dan membaca kalimat syahadat. Selasa, 6 November 2007

Sumber
Silahkan Bagikan Artikel Ini :

Posting Komentar