Kamis, 09 Desember 2010

Home » » Asal - usul Kota Indramayu

Asal - usul Kota Indramayu


Indramayu - Pendahuluan Proses penetapan hari jadi Indramayu berdirinya Kabupaten Indramayu diawali dengan dibentuknya Tim Panitia Peneliti Sejarah Indramayu yang dimaksudkan untuk menelusuri dan mengkaji sejarah “Dharma Ayu” secara menyeluruh, mengingat adanya beberapa alternatif didalam menentukan hari jadi tersebut.

Tim panitia menyimpulkan bahwa hari jadi Indramayu jatuh pada tanggal 7 Oktober 1527 M yang telah disahkan pada sidang Pleno DPRD Kabupaten Daerah tingkat II Indramayu pada tanggal 24 Juni 1977 dan ditetapkan dalam Peraturan Daerah Kabupaten Daerah tingkat II Indramayu Nomor 02 Tahun 1977 tentang penetapan hari jadi Indramayu, dimana dalam peraturan daerah tersebut disebutkan bahwa hari jadi Indramayu ditetapkan jatuh pada tanggal 7 (tujuh) Oktober 1527 M hari Jumat Kliwon tanggal 1 Muharam 934 H.

Dalam menentukan hari jadi tersebut tim panitia peneliti sejarah Indramayu berpegang pada sebuah patokan peninggalan jaman dulu dan atas dasar beberapa fakta sejarah yang ada, misalnya Prasasti, penulisan-penulisan masa lalu, benda-benda purbakala, dongeng rakyat/legenda rakyat serta tradisi yang hidup ditengah-tengah masyarakat. Berkaitan dengan itu untuk dapat menetapkan hari jadi Indramayu tim peneliti hanya bertolak dari titik dimana Dharma Ayu diresmikan yang sebelumnya bernama pedukuhan cimanuk.

PROSES SEJARAH
Menurut Babad Dermayu dan hikayat yang turun menurun dari rakyat bahwa penghuni partama daerah Indramayu adalah Raden Aria Wiralodra yang berasal dari daerah Bagelen Jawa Tengah putra Tumenggung yang barnama Gagak Singalodra. Sejak kecil dia ingin membangun suatu Negara untuk diwariskan kelak kepada cucu-cucunya. Dan untuk mewujudkan cita-citanya tersebut ia gemar melatih diri dalam olah Kanuragan, tirakat dan bertapa.

Suatu masa Raden Wiralodra menjalankan tapa brata dan semedi di perbukitan melaya di kaki gunung Sumbing, setelah melampaui masa tiga tahun ia mendapat wangsit “Hai Wiralodara, apa bila engkau ingin berbahagia serta keturunanmu kelak di kemudian hari, pergilah merantau ke arah matahari terbenam dan carilah sungai Cimanuk mana kala engkau telah tiba disana berhentilah dan tebanglah hutan belukar secukupnya untuk sebuah pedukuhan dan menetaplah di sana”.

Demi melaksanakan wangsitnya Raden Wiralodra didampingi abdinya Ki Tinggil. Berangkat ke arah barat untuk mencari sungai Cimanuk dan konon di ceritakan memakan waktu tiga tahun. Suatu senja sampailah mereka disebuah sungai yang amat besar, Raden Wiralodra mengira sungai itu adalah Cimanuk maka bermalamlah disitu dan ketika pagi-pagi bangun mereka melihat ada orang tua yang menegur mereka dan menanyakan tujuan mereka. Raden Wiralodra menjelaskan apa maksud dan tujuannya perjalanan mereka, namun orang tua itu berkata “Hai cucuku, tuan telah tersesat, sungai ini bukan Cimanuk yang tuan cari, adapun Cimanuk telah terlewat, yaitu terletak di sebelah timur, jadi tuan balik lagi dan berjalanlah kearah timur laut”. Setelah barkata demikian orang tarsebut lenyap dan orang tua itu menurut riwayat adalah Ki Buyut Sidum, Kidang Penanjung dari Pajajaran. Ki Sidum dalah seorang panakawan tumenggung Sri Baduga yang hidup antara tahun 1474 - 1513.

Kemudian Raden Wiralodra dan Ki Tinggil melanjutkan perjalanan menuju timur laut dan setelah berhari-hari berjalan mereka melihat sungai besar, Wiralodra berharap sungai tersebut adalah Cimanuk dan tiba-tiba dia melihat kebun yang indah namun pemilik kebun tersebut sangat congkak sampai Wiralodra tak kuasa mengendalikan emosinya ketika ia hendak membanting pemilik kebun itu, orang itu lenyap hanya ada suara “Hai cucuku Wiralodra ketahuilah bahwa hamba adalah Ki Sidum dan sungai ini adalah sungai Cipunegara, sekarang teruskanlah perjalanan kearah timur, manakala menjumpai seekor kijang bermata berlian ikutilah dimana kijang itu lenyap maka itulah sungai Cimanuk yang tuan cari. Kelak tuan membabad hutan Cimanuk bertapalah jangan tidur karena hal itu penting untuk kebahagiaan anak cucu tuan di kemudian hari”.

Mereka melanjutkan perjalanan kembali bertemulah mereka dengan seorang perempuan bernama Dewi Larawana yang memaksa untuk di persunting Wiralodra namun Wiralodra menolaknya hingga membuat gadis itu marah dan menyerangnya. Wiralodra mengelurkan cakranya kearah Larawana, gadis itupun lenyap barsamaan dengan munculnya seekor kijang. Wiralodra segera mengejarnya kijang tersebut yang lari kearah timur, ketika kijang itu lenyap tampaklah sebuah sungai besar. Karena kelelahan Wiralidra tertidur dan bermimpi bertemu dengan Ki Sidum yang berkata, “Hai cucuku inilah hutan Cimanuk yang di cari, di sinilah kelak tuan bermukim.”

Setelah ada kepastian lewat mimpinya itu Wiralodra dan Ki Tinggil segera membuat gubug dan membuka ladang dan menetap di sebelah barat ujung sungai Cimanuk. Akhirnya tersiarlah ke segenap pelosok bahwa di hutan Cimanuk telah berdiri sebuah pedukuhan. Pedukuhan Cimanuk tersebut makin hari makin banyak penghuninya. Pendatang terus berdatangan, diantaranya seorang wanita cantik yang datang membawa bibit- bibitan, baik bibit padi maupun palawija dan sayur-sayuran. Dia adalah Nyi Endang Dharma seorang wanita paripurna yang kelak bersama-sama Raden Wiralodra mengembangkan Indramayu. Karena kemahirannya dalam ilmu kanuragan maka telah mengundang Pangeran Guru dari Palembang, dia datang ke lembah Cimanuk bersama 24 muridnya untuk menantang Nyi Endang Darma, semua tewas, yang selanjutnya dikuburkan yang sekarang terkenal dengan “Makam Selawe”.

Melihat kejadian itu Ki Tinggil tergerak untuk melaporkannya kepada Raden Wiralodra yang saat itu sedang pulang ke Bagelen. Karena merasa ketentraman penduduknya terusik Raden Wiralodra pun kembali ke Cimanuk untuk mendengarkan kejadian yang sebenarnya dari Nyi Endang Darma. Setelah mendengar penjelasan dari Nyi Endang Darma, Wiralodra mengakui kebenaranya, namun karena ingin menyaksikan langsung kehebatan Nyi Endang Darama, Raden Wiralodra turun untuk adu kesaktian dengan Nyi Endang Darma.

Akhirnya Nyi Endang Darma kewalahan dengan serangan-serangan Wiralodra maka Nyi Endang Darma pun meloncat terjun ke dalam sungai Cimanuk dan mengakui kekalahannya. Wiralodra mengajak pulang Nyi Endang Darma untuk bersama-sama melanjutkan pembangunan pedukuhan namun Nyi Endang Darma tidak mau dan hanya berpesan, “Jika kelak tuan hendak memberi nama pedukuhan ini maka namakanlah dengan nama hamba, kiranya permohonan hamba ini tidak berlebihan karena hamba ikut andil yang tidak sedikit dalam usaha membangun daerah ini”.

Pada suatu saat yang telah ditentukan diresmikanlah pedukuhan Cimanuk tersbut, dalam sambutannya Wiralodra berkata “Untuk mengenang jasa orang yang telah ikut membangun pedukuhan ini maka pedukuhan ini kami namakan “DARMA AYU”.

Peresmian pedukuhan Darma Ayu memang tidak jelas tanggal dan tahunnya namun berdasarkan fakta-fakta sejarah yang ada dan hasil penulisan - penulisan tim peneliti menyimpulkan peristiwa tersebut terjadi pada hari jum’at kliwon, tangga 1 sura 1449 atau 1 Muharam 934 H yang bertepatan dengan tgl 07 Oktober 1527 M.

CATATAN PROSES SEJARAH INDRAMAYU LAINNYA

Cerita pedukuhan Darma ayu adalah salah satu berita tentang sejarah daerah Indramayu namun ada beberapa catatan atau berita lainnya yang juga tidak kalah pentingnya dengan proses pertumbuhan daerah Indramayu yakni sebagai berikut :

a.Berita yang bersumber pada babad Cirebon bahwa seorang saudagar China yang telah beragama islam bernama Ki Dampu Awang, ketika ekspedisinya datang ke Cirebon pada tahun 1415 Ki Dampu Awang sampai di desa Junti bermaksud melamar Nyi Gedeng Junti namun ditolak oleh Ki Gedeng Junti. Disini dapat disimpulkan bahwa desa Junti sudah ada sejak tahun 1415 M.

b.Berita dalam buku Purwaka Caruban Nagari mengenai adanya desa Babadan, dimana pada tahun 1417 M Sunan Gunung Jati pernah datang ke Babadan untuk mengislamkan Ki Gede Babadan bahkan menikah dengan puteri Ki Gede Babadan setelah sebelumnya mengobati tanaman jagung Ki Gede Babadan yang kekeringan sehingga subur kembali.

c. Di tengah kota Indramayu ada sebuah desa yang bernama Lemah Abang, nama itu ada kaitannya dengan nama salah seorang Wali Songo Syeikh Siti Jenar yang dikenal dengan nama Syeikh Lemah Abang. Mungkin dimasa hidupnya (1450 - 1406) Syeikh Lemmah Abang pernah tinggal di desa tersebut atau setidak-tidaknya dikunjungi olehnya untuk mengajarkan agama islam.

d. Setelah bangsa Portugis pada tahun 1511 menguasai Malaka antara 1513-1515 pemerintah Portugis mengirimkan ekspedisi ke pulau Jawa diantaranya terdapat seorang bernama Tom Pires yang membuat catatan harian terdapat data- data sebagai berikut :
+ Tahun 1513-1515 pedukuhan Cimanuk sudah ada bahkan sudah mempunyai pelabuhan.
+ Pedukuhan Cimanuk merupakan wilayah kerajaan Sunda (Pajajaran) dan disitulah kerajaan Sunda (sebelah timur masuk wilayah Cirebon).

Melihat bukti-bukti atau sumber berita di atas diperkirakan selambat-lambatnya pada akhir abad XVI M daerah Indramayu sekarang atau setidak-tidaknya sebagian dari padanya sudah dihuni manusia.

Demikian sejarah Indramayu, dikutip dari:(Buku Sejarah Indramayu (cetakan ke 2) terbitan pemerintah Kabupaten DT II Indramayu).
Silahkan Bagikan Artikel Ini :

+ komentar + 2 komentar

20 Juli 2011 13.23

"Bengelen"..?
sering kali aku ditanya, "bahasa indramayu itu bahasanya apa".? akupun menjawabnya bahasa indramyu sendri,,tapi jika di bandingkan dengan jawa tengah hampir ada kemiripan,,apakah ini ada hubunganya dengan asal kelahiran Raden Arya Wilalodra (JATENG).?? matur nuwun

Terimakasih nothox atas Komentarnya di Asal - usul Kota Indramayu
Anonim
3 November 2011 22.03

Ceritanya ga lengkap bos....!!! sya lagi nyari artikel babad dermayu...ada yang punya atau tau link nya...???

Terimakasih Anonim atas Komentarnya di Asal - usul Kota Indramayu

Poskan Komentar