Rabu, 12 Oktober 2011

Home » » Hatta: Sebuah Proyek Butuh Visi dan Kepemimpinan

Hatta: Sebuah Proyek Butuh Visi dan Kepemimpinan



Indramayu - Penuntasan sebuah proyek tidak selalu sederhana dan mudah karena proyek apapun membutuhkan kepemimpinan dan visi dari seorang pemimpin. Seorang pemimpin proyek harus bisa menampung ide, pemikiran, dan aspirasi dari banyak pihak yang terlibat proyek, menguasai teknis pengerjaan proyek secara lengkap.

"Dibutuhkan visi dan kepemimpinan yang kuat (dalam menyelesaikan sebuah proyek)," ujar Menteri Koordinator Perekonomian Hatta Rajasa Ketika meresmikan pengoperasian unit 1 dan 2 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) di Indramayu, Jawa Barat, Rabu (12/10/2011).

Menurut Hatta, tidak mudah menyelesaikan proyek yang melibatkan begitu banyak pihak itu. Hal ini pernah dialaminya sekitar 30 tahun silam ketika dia memimpin sebuah proyek pengeboran. Ketika itu usianya belum sampai 30 tahun.

Proyek pengeboran tersebut melibatkan begitu banyak sub kontraktor. Sebagai pemimpin proyek, Hatta harus bisa menampung ide, pemikiran, dan aspirasi dari banyak pihak yang terlibat proyek. Belum lagi persoalan teknis yang harus dibereskan.

Seorang pemimpin proyek harus dapat mengelola perbedaan-perbedaan antara pemangku kepentingan dalam sebuah proyek, sehingga dapat menghindarkan terjadi benturan. Ujian terberat seorang pemimpin proyek ada di sana. Sebab, jika terjadi benturan, target penyelesaian proyek bisa tidak tercapai.

"Karena itulah saya ingin menyampaikan selamat atas selesainya proyek PLTU Indramayu ini," ujar Hatta.

Apalagi, lanjutnya, diantara proyek pembangkit listrik 10.000 MW tahap pertama, PLTU Indramayu termasuk yang terbaik.

Arti penting proyek ini telah mendorong Hatta untuk menyempatkan diri datang dan meresmikan proyek tersebut. Hatta rela menggunakan helikopter carteran dari Jakarta menuju Indramayu agar bisa kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan tugas-tugas lainnya.

Hatta tiba di lokasi pukul 08.45 WIB, dan langsung kembali ke Jakarta pukul 11.00. Ini dilakukan karena sejam kemudian Hatta harus menyampaikan anugerah penghargaan kepada tujuh provinsi terbaik bidang investasi di kantor Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Jakarta.

PLTU Indramayu yang berkapasitas 3 x 330 Mega Watt (MW) ini, terdiri atas tiga unit mesin pembangkit. Dibangun di atas lahan seluas 83 hektar di desa Sumur Adem, Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu.

Proyek ini dibangun dengan dana senilai USD 696,734 plus Rp 1,497 triliun. Adapun sumber pendanaannya bersumber dari pinjaman Bank of China, konsorsium beberapa bank nasional, dan APLN. Pelaksana kontrak pekerjaan dimenangkan SINOMACH–CNEEC–PT Penta Adi Samudera Joint Operation. Sedangkan konsultan disain dikerjakan oleh PT Prima Layanan Enjinering.

Kebutuhan batubara untuk PLTU Indramayu yang merupakan bagian dari proyek 10.000 MW ini diperkirakan mencapai 4.200.000 ton / tahun. Listrik yang dihasilkan dari PLTU ini disalurkan melalui transmisi 150 kV ke Gardu Induk (GI) Sukamandi.[det/adm]
Silahkan Bagikan Artikel Ini :

Posting Komentar